Kamis, 09 Desember 2010

Awan Berbentuk Petruk di Atas Letusan Gunung Merapi



Sebuah fenomena aneh muncul sebelum meletusnya Gunung Merapi pada 26 Oktober lalu. Awan di atas Gunung Merapi membentuk gambar mirip kepala Petruk, salah satu tokoh dalam dunia pewayangan.

Peristiwa aneh tersebut berhasil diabadikan Suswanto (43), warga Desa Sudimoro, Pucang Anom, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, dengan kamera miliknya. Awan mirip sosok Petruk itu terlihat pada Selasa 26 Oktober sekira pukul 17.00 WIB.

Suswanto menceritakan, saat itu dirinya secara kebetulan keluar rumah dan memandang ke arah Gunung Merapi. Saat itulah dia melihat gumpalan awan mirip sosok Petruk. “Lalu saya ambil kamera dan memfotonya. Awalnya hanya iseng, tapi kemudian hasil gambarnya mengejutkan,” ujarnya di Magelang, Senin (1/11/2010).

Disebutkan, awan di atas puncak Merapi itu membentuk pola kepala Petruk dengan hidung panjang dan kuncir rambut melengkung ke atas. Sosoknya menghadap ke arah Selatan, yaitu Yogyakarta. Dari depan rumah Suswanto ke puncak Merapi sekira 13 kilometer.

Bagi masyarakat di Lereng Merapi sosok Petruk memiliki mitos dan misteri sendiri. Mereka menyakini Gunung Merapi dikuasai sosok gaib, yaitu Mbah Petruk. Sejumlah warga yang melihat hasil jepretan Suswanto menyakini bahwa gambar tersebut mirip sosok Petruk, sang penunggu Merapi.

Mereka menduga, Petruk memperlihatkan diri sebagai tanda bakal ada bencana besar di Gunung Merapi. Mbah Sihur, (54) warga Desa Gaten, Desa Ketunggeng, Srumbung, menyatakan munculnya awan berbentuk kepala Petruk menyakini sebagai peringatan bagi warga sekitar Merapi agar menyingkir. “Dengan melihat arahnya yang ke selatan sudah terbukti yang parah terkena letusan Merapi adalah Yogya,” ujarnya.

Mbah Sihur menyakini Mbah Petruk bersemayam di dalam kawah Merapi. Kepercayaan tentang Petruk tak lepas dari sejarah peralihan Hindu Majapahit ke Islam Demak. Masyarakat sekitar Merapi menyakini Petruk sebagai sosok sabdo palon lolo gendong yaitu penasihat Raja Majapahit Barawijaya V.

Di akhir masa kejayaan Majapahit dan masuknya Demak, Brawijaya V memilih berdiam di Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini dilakukan karena dia menolak masuk Islam.

Maka sabdo palon pun memilih mengikuti jajak sang raja, hanya saja dia tidak ikut ke Gunung Lawu tapi ke Gunung Merapi sebagai tampat tinggalnya. Sebagai peringatan terhadap lawan-lawan politiknya yang tengah berkuasa saat itu, dia mengangkat sumpah bahwa kelak akan menagih janji penguasa negeri tentang amanahnya menyejahterakan rakyat.

Masyarakat Lereng Merapi menyakini bahwa letusan gunung teraktif di Indonesia sejak tanggal 26 Oktober lalu merupakan peringatan bahwa penguasa negeri ini telah lalai menjalankan amanah mensejahterakan rakyat. “Jadi dia marah dan menagih janji penguasa,” tandasnya.

Inilah Foto atau Gambar awan di atas gunung Merapi yang diduga menyerupai petruk !




source: http://jekethek.blogspot.com/2010/11/anehnya-awan-bergambar-petruk-di-atas.html

Tipe Letusan Merapi Mengalami Perubahan

 
TIPE letusan Gunung Merapi kini berubah, menurut ahli vulkanologi dari Universitas Kyoto Jepang Masato Iguchi.

Ia mengatakan tipe letusan Merapi mengalami perubahan dibandingkan dengan letusan sebelum 2006 yang ditandai dengan adanya pembentukan kubah lava.

“Saya hingga kini belum mengetahui penyebab mengapa tipe letusan Gunung Merapi berubah, namun perubahan tipe letusan seperti ini sering terjadi di sejumlah gunung berapi lainnya, salah satunya gunung berapi di Jepang, Miyake Jima,” katanya, di Yogyakarta, Jumat (12/11).

Sebelumnya, Direktur Penerangan dan kebudayaan Besar Jepang di Indonesia Masaki Tani mengatakan tiga ahli vulkanologi asal Jepang akan membantu melakukan survei kondisi bencana letusan Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Tiga vulkanolog itu, yakni Kenji Nogami (ahli di bidang “volcanic chemistry”), Masato Iguchi (ahli di bidang “physical vulcanology”), dan Takayuki Kaneko (ahli di bidang “volcano geology”). Selain itu ada ahli di bidang penyakit saluran pernapasan Satoru Ishii.

“Kami akan terus memberikan pendampingan dari sisi keilmuan kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral,” kata Iguchi.

Gunung Miyake Jima di Jepang, kata dia, memiliki tipe erupsi yang sama yaitu meletus setiap 20 tahun sekali ditandai dengan keluarnya aliran lava, namun pada 2000 gunung tersebut meletus dengan membuat kaldera berdiameter satu kilometer, dan letusan besar dengan kolom asap setinggi 10 km.

“Perubahan itu disebabkan adanya pergerakan magma dalam volume yang cukup besar, namun belum bisa memastikan apakah hal itu juga terjadi di Gunung Merapi,” kataIguchi. 

Mengenai pemasangan mikrofon infrasonik untuk Gunung Merapi, Icuchi mengatakan alat tersebut sangat efektif untuk memantau gunung ini karena terkadang puncak gunung ini diselimuti kabut, sehingga tidak terlihat adanya letusan, padahal kenyataannya gunung tersebut meletus.

Alat tersebut, kata dia akan dipasang di luar radius 20 kilometer dari puncak Merapi sesuai radius aman yang telah ditetapkan PVMBG, salah satunya di dekat Prambanan.

Tiga mikrofon infrasonik akan dipasang untuk mempertajam pantauan Gunung Merapi, sehingga PVMBG akan memperoleh gambaran aktivitas gunung itu lebih baik.

“Pengamat selama ini sering tidak mendengar letusan Gunung Merapi, meskipun sebenarnya gunung meletus sehingga dengan adanya mikrofon infrasonik maka akan diperoleh data lebih baik tentang letusan Merapi,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber DayaMineral (ESDM) Surono, di Yogyakarta, Jumat. 

Menurut dia, mikrofon infrasonik tersebut akan mampu menangkap gelombang udara yang diakibatkan letusan Gunung Merapi dan pengamat tidak hanya mendasarkan pengamatan pada seismograf atau pengamatan visual. “Kami kemudian akan menganalisa data yang masuk sehingga memperoleh statistik yang baik tentang jumlah letusan Merapi,” katanya.

Ia mengatakan alat serupa telah dipasang di sejumlah gunung api lain di Indonesia seperti Gunung Krakatau dan Gunung Semeru.

Pemasangan mikrofon infrasonik merupakan hasil kerja sama dengan Jepang yang juga mengirimkan tiga ahli gunung api ke Indonesia untuk melakukan pemantauan terhadap Merapi.

“Meskipun ada bantuan dari Jepang, bukan berarti tenaga dari Indonesia masih kurang. Segala pertimbangan dan keputusan juga masih berada di tangan saya,” katanya.

Ketiga ahli dari Jepang tersebut melakukan pantauan dari tiga sisi yang saling berkaitan, yaitu geofisik, geokimia, dan geologi.

Mengenai pemasangan mikrofon infrasonik itu, Iguchi mengatakan alat tersebut akan efektif karena terkadang puncak Gunung Merapi diselimuti kabut sehingga tidak terlihat adanya letusan, padahal kenyataannya gunung tersebut meletus. “Kami akan terus memberikan pendampingan dari sisi keilmuan kepada PVMBG,” katanya.

Intensitas erupsi menurun
Intensitas erupsi Gunung Merapi pada Jumat mulai pukul 06.00 hingga 12.00 masih berlangsung, namun cenderung menurun dengan disertai suara gemuruh lemah sampai sedang yang terdengar di kawasan Kaliurang.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono mengatakan berdasarkan hasil pemantauan yang diperoleh jumlah kegempaan terjadi tremor beruntun, 10 guguran, dan dua kali gempa teknonik.

Selebihnya, kata dia, gempa vulkanik, multiphase, dan “low frequency” tidak terdeteksi. Pada pukul 12.54 WIB awan panas meluncur ke arah Selatan.

Ia mengatakan endapan lahar telah teramati di semua sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi dari arah tenggara, selatan, barat daya, barat, hingga barat laut yang meliputi Kali Woro, Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Sat, Lamat, Senowo, Tringsing, dan Kali Apu.

Surono mengatakan lahar di Kali Boyong telah diendapkan di Dusun Kardangan Desa Purwobinangun, Pakem yang berjarak sekitar 16 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Lahar di Kali Kuning telah mengisi penuh Jembatan Sidorejo, Dusun Sidorejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem yang berjarak 9,5 kilometer dari puncak Merapi,” katanya.

Dia mengatakan di alur Kali Gendol lahar telah mengisi penuh dam di Dusun Morangan Desa Sindumartani yang berjarak 16,5 kilometer dari puncak Merapi.

Berdasarkan laporan dari Pos Ketep, cuaca cerah diselingi kabut dari dini hari hingga siang ini terus terjadi. Tampak asap berwarna putih hingga cokelat condong ke selatan, barat daya, barat hingga barat laut setinggi 1.000 meter dari puncak Gunung Merapi dan bertekanan lemah.

source: http://ruangberita.com/tipe-letusan-merapi-alami-perubahan/

Lingkaran Matahari (Halo) Muncul di Langit Padang

Halo Matahari menyapa Padang - Halo matahari adalah fenomena alam yang berupa pelangi yang mengelilingi Matahari. Dan kini sebagian besar warga kota Padang sudah bisa melihatnya. Halo Matahari menyapa Padang pada pukul 10.00 hingga pukul 14.00 di Padang, sebagian warga bahkan keluar rumah dan gedung perkantoran seperti yang dilakukan sejumlah pegawai di kantor Pertamina wilayah I Sumbar yang buru-buru keluar gedung kantor untuk menyaksikan fenomena alam tersebut.

"Cobalah lihat keluar, ada pelangi mengelilingi matahari," kata Yanti (45), salah seorang warga. Sebagian warga juga mengabadikan fenomena unik Halo Matahari yang berlangsung antara pukul 10.00 hingga sekitar pukul 14.00 itu dan membagikannya di situs jejaring sosial.

Halo matahari terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh uap air yang terjadi di atmosfer sehingga membentuk lingkaran pelangi. Terakhir kali, fenomena halo matahari terjadi di Bogor pada Selasa (12/10/2010) lalu.

Sejak pukul 10.00, Kamis 21 Oktober 2010, terjadi fenomena halo matahari di atas Kota Padang, Sumatera Barat. Sebagian besar warga lalu mengaitkan fenomena ini dengan gempa besar. "Fenomena ini soalnya pernah terjadi sehari setelah gempa besar 30 September 2009," kata Sari, seorang warga Padang. Dan Sari pun penasaran dengan fenomena ini, mencoba mengabadikan dengan kamera ponselnya.
Saat fenomena halo Matahari terjadi, cuaca dilaporkan cerah meski terdapat sedikit awan. Menurut Wikipedia, fenomena halo adalah fenomena optis yang terjadi karena pembiasan uap air oleh cahaya matahari sehingga kadang memunculkan pelangi mengelilingi matahari. Fenomena yang sama juga sering terjadi pada saat bulan purnama, sehingga disebut halo bulan.

Kemungkinan gempa besar di Sumatera Barat sudah berulang kali dilansir Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Andi Arief. Andi mengungkapkan dua daerah Sumatera yang berpotensi terkena gempa rambatan adalah di Bengkulu dan Mentawai. Menurut dia, Mentawai diprediksi tak lama lagi berpotensi diguncang gempa besar berkekuatan 8,1 SR. "Namun, kita tidak bisa tahu itu kapan terjadi." 
source : http://www.anehnie.com/2010/10/halo-matahari-menyapa-padang.html

Fenonema Hujan Es Mengguyur Daerah Mina


http://www.myinterestingfiles.com/images/2008/03/after_ice_rain_in_south_china_11.jpg
ilustrasi
 

TEROWONGAN MINA, Ribuan jamaah haji memasuki terowongan Muashim sebelum melempar jumrah Nafar Awal di Jamarat, Mekkah, Arab Saudi, kemarin. Terowongan tersebut juga dikenal sebagai terowongan Mina yang pernah menelan ratusan jamaah meninggal akibat saling berdesakan.

MINA (SINDO) – Kemarin sore kawasan Mina kembali diguyur hujan lebat.Bahkan, selama beberapa menit,hujan disertai dengan butiranbutiran es sebesar batu kerikil. Selain hujan es, petir terus menyambar sejak awal hujan turun. Sejumlah jamaah yang akan melontar jumrah berlarian untuk mencari tempat berteduh.Jamaah juga banyak berkumpul di terowongan Mina. Hujan yang disertai angin kencang ini membuat satu plang kantor di Mina Muashim rusak.

Tapi,tak ada korban akibat peristiwa ini. Genangan air juga mulai bermunculan di sekitar jalan di kawasan Mina Muashim.“Jamaah diharapkan selalu menggunakan masker karena cuaca buruk,” kata Kepala Sanitasi dan Survailence BPHI Madinah Zainal Ilyas kemarin. Memang, hujan lebat yang mengguyur kawasan Mina Muashim mengakibatkan genangan air di sejumlah tempat. Genangan tersebut disebabkan sampah yang menumpuk di pinggir jalan.

Seperti terlihat di jalanan setelah melewati kantor Misi Haji Indonesia di Mina terdapat genangan air sepanjang 200 meter.Genangan air yang muncul bervariasi mulai dari semata kaki hingga betis orang dewasa.Namun, genangan air itu muncul hanya di beberapa tempat yang rendah. Meski terdapat genangan, hal itu tak menghalangi para jamaah untuk tetap melakukan lontar jumrah terakhir bagi yang mengambil nafar awal.

Jamaah wanita terpaksa harus menyingkap celana atau pakaiannya agar tidak basah terkena genangan air hujan. Sementara itu, pemerintah Arab Saudi melalui sejumlah operator seluler terus menyebarluaskan informasi adanya banjir di Mina. Dalam informasi lewat SMS tersebut, Pemerintah Arab Saudi mengimbau agar jamaah menghindari lokasi banjir jika menuju Mina.

Di antara operator seluler yang menyebarluaskan informasi tersebut adalah Mobily dan Aljawal. Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Kesultanan Oman Gatot Abdullah Mansyur mengaku, pihaknya baru mendapat adanya informasihujanderasdiMinadalam layananoperatorseluler.“Kamijuga terus memantau dari petugas di lapangan, sementara info yang masuk dari handphone,” ujar Koordinator Harian Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi ini.

Dia mengimbau jamaah Indonesia mematuhi peraturan petugas terkait adanya hujan dan banjir itu. Sebab, hal tersebut demi keselamatan jiwa dan kekhusyukan beribadah.Namun, saat hujan deras yang mengguyur Mina, sebagian besar jamaah Indonesia sudah meninggalkan Mina karena mengambil nafar awal.Komandan Satgas Mina Subakin Abdul Muthalib juga membenarkan adanya banjir di kawasan Mina. Rabu (17/11) malam, kawasan Mina juga sudah diguyur hujan meski ringan.Meski demikian, saat itu angin bertiup cukup kencang disertai petir.

Sebelumnya,pada Rabu (17/11) siang, cuaca panas mendera jamaah haji yang tengah melaksanakan pelontaran jumrah di Mina dan Jamarat.Namun,pada malam harinya, hujan disertai petir dan angin kencang mulai melanda kawasan tersebut.Akibatnya, petugas sempat menutup Jamarat. Hujan disertai angin kencang datang setelah magrib atau sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Jutaan jamaah haji dari berbagai negara yang mulai melaksanakan mabit (bermalam) pun bergegas mencari perlindungan ke tempat yang lebih aman seperti jembatan, masjid,atau pertokoan.

Suyono, salah seorang jamaah Indonesia mengaku,saat hujan dirinya tengah berada di dalam kompleks Jamarat untuk melempar jumrah. Tak disangka, angin disertai hujan tiba-tiba datang.Hal ini membuat ribuan jamaah yang tengah berada di luar Jamarat berusaha mencari tempat berteduh. Mereka berlari cepat berlindung di balik bangunan raksasa kompleks Jamarat. Namun oleh petugas keamanan, mereka dilarang berada di tempat tersebut dan disuruh cepat keluar.

Petugas tak ingin ada penumpukan di lokasi Jamarat.Sebab pada saat yang sama,banyak jamaah yang akan masuk bangunan tersebut untuk melempar jumrah pada hari kedua. Karena ditutup, akhirnya jamaah berlarian keluar Jamarat dalam guyuran hujan. Sementara, ribuan jamaah yang akan baru masuk kawasan Jamarat kembali keluar dari Mina mencari tempat aman seperti di kawasan Aziziah.

Angin kencang juga sempat membuat sampah-sampah di kawasan Jamarat beterbangan. Jamaah pun harus menggunakan masker karena merasa sesak akibat debu tebal yang beterbangan. Setelah saya berlari meski harus berdesakdesakan akhirnya sampai di pemondokan,” kata Suyono. (nurul huda/abdul hakim)

ABDUL HAKIM & NURUL HUDA
Laporan Wartawan SINDO
MEKKAH, MADINAH, DAN JEDDAH    

source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/365030/

Kamis, 02 Desember 2010

25 Buah-buahan dari Pedalaman Kalimantan

Mengunjungi Kalimantan di kala musim buah adalah sebuah anugerah yang tiada tara. Apalagi jika anda bersedia untuk masuk hutan. Kita akan dimanjakan oleh alam dengan berbagai macam buah yang tak bisa kita dapatkan di pasar, apalagi di supermarket. Bulan November sampai Maret adalah bulan yang cocok untuk berburu buah hutan Kalimantan Timur.



Ada banyak lagi jenis buah yang aneh dan sungguh sensasional, baik dari segi bentuk dan rasa. Buah-buah tersebut bahkan hanya dikenal oleh beberapa kampung saja. Jangan coba mencarinya di kota kecamatan. Di kampung berbeda saja kita akan mendapatkan jenis buah yang berbeda. Berikut adalah beberapa saja yang saya bawakan sebagai oleh-oleh untuk anda dari wilayah hutan Lesan di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.



1. Buah Wanyi
Buah wanyi ini dagingnya bewarna putih rasanya manis keasam-asaman dan berbau sangat tajam. buahnya lonjong seperti mangga, ukurannya lebih besar dari buah mangga.

ada yang bahanya darai wanyi ini, yaitu Getah pohonnya, jika kita terkena getahnya efeknya gatal-gatal.
Buah wanyi hidup di hutan kalimantan, dan paling banyak terdapat di Kaltim, sayang buah ini susah sekali di temui apa lagi daerah di kota-kota,.kalau pun ada palingan cuma 1 pohon saja yang masih hidup.
tapi kalau di dalam hutan mungkin masih banyak di temui,.sangking langkanya aku nanama bijinya Alhamdulillah umurnya udah 1 tahun,.hehee

2.Buah Ihau
 
Buah yang satu ini dikenal dengan beberapa nama sebutan. Ada yang menyebutnya Ihau, masyarakat Tanjungselor Kabupaen Bulungan menyebutnya Mata Kucing karena isi buah dan bijinya mirip dengan mata kucing yang bersinar, sedangkan masyarakat Dayak Kenyah di Tering Kabupaten Kutai Barat menyebutnya Duku.


Buah Ihau merupakan buah asli Kalimantan Timur (dan mungkin juga ada di hutan-hutan wilayah Kalimantan lainnya termasuk di hutan Malaysa dan Brunai Darussalam). Bentuknya bundar sebesar kelereng dengan daging buah mirip klengkeng dengan rasa manis yang juga menyerupai rasa buah klengkeng. Tak heran sebagian masyarakat kota menyebutnya sebagai buah Klengkeng asli Kalimantan.

Layaknya pohon-pohon yang tumbuh dihutan Kalimantan, pohon ihau memiliki batang yang besar dan kokoh serta menjulang tinggi. Memiliki dua jenis warna, yaitu berwarna kuning kecoklatan dan ada juga yang berwarna hijau, menjadikan ihau atau si mata kucing ini sebagai santapan lezat para monyet, burung enggang dan satwa lainnya.


Pada musim buah kali ini (Desember-Pebruari) buah Ihau masih dapat ditemukan dipasar-pasar tradisional di pedalaman Mahakam. Namun kali ini buah Ihau juga dapat ditemukan di penjual buah pinggir jalan di Samarinda. Ketika ditanya asal buah, penjual menjawab asalnya bukan lagi dari pedalaman Mahakam yang memikili hutan-hutan yang lebat, namun buah ihau telah dikebunkan oleh petani di pinggiran kota Samarinda, tepatnya di Desa Lempake Kecamatan Samarinda Utara.

Jika dahulu orang menjual buah ihau dengan takaran bekas kaleng susu ukuran kecil, kini buah ihau dijual dengan takaran kilogram layaknya buah-buah lainnya. Harga satu kilo gram yang ditawarkan pedagang buah berkisar antara Rp.15.000 hingga Rp. 20.000. Harga ini cukup pantas jika bersaing dengan buah klengkeng impor apalagi mengingat sudah langkanya buah ini.


3.Buah Rambai

Musim buah Rambai ini setahun sekali ini. Buah rambai berasa manis-manis masam, dengan buah yang berisi 2-4 juring.  Buah ini hampir mirip dengan langsat / Duku, yang membedakanyaRambai menyebar dari Indomalesia ke arah Pasifik Barat. Biasanya kemunculan buah rambai ini merupakan tanda bahwa musim buah akan segera berakhir.


Alhamdulillah, beberapa jenis buah telah kucicipi pada musim buah kali ini. Sebenarnya masih banyak buah-buahan khas pedalaman yang belum sempat kurasakan karena memang tidak terlalu banyak dihasilkan dan hanya dijual pada daerah-daerah tertentu saja, seperti buah durian merah, lahong dan buah tarap.


4. Buah Kapul

Buah Kapul sungguh sangat mirip dengan buah mangis.  Hanya kulitnya persis seperti kulit kayu. Beda lainnya adalah pada ujung buah tidak terdapat bentuk bintang, sedangkan di pangkal tangkainya tidak terdapat mahkota. Buahnya ada dua jenis Kapul berdaging putih dan kapul berdaging kuning.

 Buah kapul berdaging kuning


Kapul berdaging putih


Jika manggis setiap buahnya terdiri atas lima biji, kapul hanya terdiri dari empat buah saja. Warna daging buah putih. Ada juga kapul yang daging buahnya kuning. Rasanya? Persis rasa manggis.
5. Buah Keledang 

Buah Keledang termasuk buah langka bumi Kalimantan. Bentuknya persis nangka. Demikianpun daging-bu. Hanya ukurannya mini. keledang merupakan buah yang mulai terlupakan seiring dengan habisnya hutan-hutan alami. Pohonnya dapat menjulang tinggi mencapai 30 meter dan berdaun lebar dan sedikit berbulu. Pohon keledang dapat berbuah sejak 5 tahun  setelah tanam. Tumbuh diberbagai jenis tanah dan umumnya dihutan tropis dan penuh dengan humus.
Buah Keledang  (Artocarpus lancifolius Roxb) termasuk Famili Moraceae (suku nangka-nangkaan). Kerabat dekatnya buah Mentawa, Kluwih, Pintau, Cempedak, Sukun, Selanking, Benda, dan Nangka.

Buah Keledang rasanya manis dan daging buahnya terpisah dari bijinya seperti nangka. Sensasi rasanya merupakan campuran antara nangka dan manggis. Warna  kulit buahnya jingga kemerahan  dan bentuk buahnya seperti cempedak.  Buah  keledang termasuk salah satu buah buahan eksotis hutan Kalimantan (Borneo)  yg tumbuh merata di seluruh daratan pulau ini.

Bersyukur, ketika musim buah pada Desember ini di Kota Samarinda, masih banyak penjaja buah dipinggir jalan  yang menjualnya. Buah sebesar genggaman tangan orang dewasa dijual dengan harga Rp. 2500 per buahnya. Sungguh harga yang murah untuk buah yang sudah jarang ditemukan ini.
Pelestarian Pohon Keledang belum mendapat perhatian, begitupun dengan buah buah eksotis hutan Kalimantan lainnya. Padahal potensi tumbuhnya sangat mudah dengan perbanyakan melalui  biji yang disemai.




Jika buah nangka harus dibuka dengan pisau, buah keledang cukup diputar saja. Setelah diputar, buah akan terbuka. Selanjutnya, biji-biji ranum berwarna orange yang terpisah dari kulit buah segera tampak dan menantang kita untuk menikmatinya.

Rasanya sangat nikmat. Jika nangka dan cempedak berbau, keledang sama sekali tidak. Sehingga mereka yang tidak suka buah yang beraroma pasti akan menyukai keledang.




6.Buah Tarap 

Buah tarap mirip sekali dengan buah sukun. Kulitnya bagaikan karet yang ditata rapi. Jika kita raba, kulitnya akan menempel ke telapak tangan, seperti kaki cicak. Buah tarap adalah sumber energi. Sebab rasanya sangat manis. Segera setelah kita memakannya, maka energi kita akan segera pulih.

Cara membukanya adalah dengan membelah buah tarap secara membujur. Kemudian kulit buah akan dengan mudah kita kelupas. Yang tertinggal adalah butiran-butiran ranum berwarna putih yang siap dinikmati. Sayang, buah tarap menyebarkan bau seperti cempedak. Sehingga bagi mereka yang tak menyukai buah beraroma, mungkin tak akan menyukai buah tarap.



7 Buah Bemotong

Buah bemotong menggerombol di pangkal batang, tepat diatas tanah. Warnanya merah segar. Namun segera akan berubah kecoklatan begitu kita kutip dari pohonnya. Buah yang ukurannya seujung balpoin ini tersusun dalam tandan.



Warna daging buahnya ungu atau putih. Rasanya manis. Ada biji kecil ditengahnya. Saat menikmati, kita bisa telan saja biji kecil ini, seperti saat kita makan manggis.




8. Buah Maritam
Buah Maritam, buah jenis rambutan tapi tidak berbulu, Rasa manis dan daginya sama seperti rambutan



9. Buah Asam putar
Buah Asam putar, disebut juga asam pulasan, jenis mangga unik ada di pedalaman Kalimantan, karena bijinya bisa dilepas dengan cara buahnya diputar.
10. Buah Lahung

Buah lahung, buah lahung, buah jenis durian dengan kulit bewarna merah dan daginya warna kuning



 11. Buah Durian Merah

 Durian merah ini rasanya sama seperti durian umumnya, yang membedakan hanya ukurannya lebih kecil dan dagingnya bewarna merah

12. Buah Rumbia
Kalau Buah Rumbia banyak terdapat di indonesia, karena Rumbia adalah pohon sagu. Jadi buah rumbia adalah buah yang dihasilkan dari pohon sagu. Buah ini rasanya manis-manis sepet. Biasanya diasinkan dulu untuk menghilangkan rasa sepetnya. Namun sepetnya buah Rumbia ini tidak sebanding dengan sepetnya buah Rukem yang mentah. Jadi kalau langsung dimakan biasa nggak masalah.

Sebenarnya masih banyak lagi buah-buah pedalaman kalimantan, contohnya di bawah ini

13.Buah gitaan


14. Buah Binjai

15. Buah mundar

16. Buah Bangkinang
17. Buah apel banjar

18. Buah kasturi
19.Buah Karatongan

20.Buah Ramania


21. Buah Nam-nam



22. Buah Mangga Kuweni
23. Buah kepayang

buah kepayang, kita hanya kenal mabuk kepayang, tetapi tidak tahu kepayang itu apa, nah kepayang itu adalah buah, dari biji buah ini ada isi setelah melalui proses pengolahan, maka isi  dalam biji buah ini bisa dimakan, hingga keenakan, sampai sampai lupa pekerjaan lain karena mabuk keenakan makan kepayang ini.
24. Buah Jinalun


25. Mangga kecil
mangga sapat
Mangga kecil yang disebut hasam hurang atau mangga sapat


Demikinlah Buah-buahan dari pedalaman Kalimantan yang sangat jarang kita temui di jaman sekarang ini, Bayangkan saja dari sekian banyaknya buah tersebut hanya Buah Wanyi, durian merah, rambai, ihau, langsat, kapul, dan mangga kuweni.yang sudah pernah saya cobai, Lantas bagai mana dengan Anda ???

source: http://bontangkreatif.blogspot.com/2010/11/mengunjungi-kalimantan-di-kala-musim.html